NPM : 10512243
KELAS : 2PA06
Dalam sebuah hubungan, siklus naik dan turun pasti bisa
datang melanda. Hubungan suami istri dalam pernikahan pun tak luput dari
persoalan tersebut. Dan sulitnya, rasa jenuh pun mampu membawa akibat pada
lahirnya sebuah perceraian. Tentu, siapapun tak akan berkeinginan jika kelak
rumah tangga yang mereka bina dapat berujung pada sebuah perpisahan. Maka untuk
mengatasinya, sejak jauh-jauh hari setiap individu dalam sebuah pasangan suami
istri harus mengantisipasinya dengan membina komunikasi sebelum masalah itu
datang.
Rasa jenuh dalam pernikahan itu sendiri bisa datang karena bermacam-macam
penyebab. Mulai dari karena usia pernikahan yang seiring makin bertambah,
hingga komunikasi yang tidak terpelihara dengan baik. Jadi sebelum rasa
jenuh mampu menghancurkan hubungan dalam pernikahan, kita pun perlu tahu
mengapa rasa jenuh itu bisa datang dan bagaimana cara mengatasinya. Jika sebuah
hubungan pernikahan dari waktu ke waktu dilukiskan dalam bentuk grafik, maka
garis yang terlihat akan nampak naik dan turun. Dalam hubungan apapun, rasa
cinta dan sayang antar pasangan memang bisa mengalami masa-masa hangat dan
renggang.
Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Satu diantaranya adalah rasa jenuh yang
bisa melanda salah satu pasangan, atau bahkan bisa jadi dialami oleh
kedua-duanya. Rasa jenuh ini pun bisa hadir ketika ada dasar yang kurang kuat
di antara pasangan itu sendiri. Padahal semua orang pasti mengerti, tapi hal itu bisa menjadi kendala bagi setiap
pasangan dalam membina hubungan rumah tangga. Dalam rumah tangga itu harus ada
kasih sayang yang serius. “Ada canda, humor, dan saling keterbukaan,
Terus
terang saja, pria itu memang kaya dengan ego. Maka itu ia butuh perhatian yang
serius dan jika wanita bisa memberikan kasih sayang, perhatian, dan kesabaran
pada pasangannya itulah yg akan membuat rumah tangga menjadi langgeng. “Karena
suami itu pada dasarnya sangat butuh perhatian. Maka titik rawan pada sebuah
hubungan suami istri dapat terjadi apabila pada suami istri yang sama-sama bekerja.
Jika demikian, meskipun sang istri juga menjadi wanita bekerja, ia harus tetap
bisa memahami suaminya. Dalam artian, tahu akan karaketristik sang suami.
Karena itu, buatlah hubungan Anda dengan pasangan seperti layak nya masa-masa
pacaran dahulu. Hal-hal sepele seperti merawat suami, bercanda, rekreasi dengan
keluarga, atau membuatkan masakan spesial yang disukai pasangan, mampu menjadi
bumbu pemanis dalam rumah tangga. Lakukan hal-hal tersebut meskipun sehari-hari
sebagai wanita memiliki kesibukan di dalam karir pekerjaannya.
Belum lagi
ketika kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga dalam artian anak hadir di
tengah-tengah pasangan suami istri. Bisa jadi, anak akan menyita perhatian satu
diantara pasangan. Namun sebaliknya, kebanyakan kehadiran anak sebetulnya malah
mampu membuat hubungan sebuah rumah tangga makin kuat.
Dan dalam rumah tangga, harus ada pihak yang lebih mengalah. Seperti hal nya
saat suami sedang emosi dia harus bisa menahan ego dan kita pun sebagai wanita
harus bisa bersabar dan mengalah. Biasanya wanita yang begitu bangga
dengan karirnya bisa membuat sebuah keluarga menjadi goyang. Meskipun ia
bekerja, tetap saja, ia juga harus memiliki posisi mengalah di dalam rumah tangga
dalam arti untuk menyelamatkan rumah tangga dan juga suami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar