Senin, 16 November 2015

SOFTSKILL MINGGU KE 2



1.    Definisi CBIS

Menurut Umar (2005), CBIS merupakan evolusi sistem informasi yang berbasiskan komputer yang tahapannya memperlihatkan  perkembangan kemajuan teknologi sistem informasi sekaligus pemanfaatannya oleh orang-orang yang berkepentingan dalam perusahaan.

Sedangkan menurut Laudon dan Laudon (2008), CBIS adalah sistem informasi berbasis komputer untuk pemrosesan dan penyebaran informasi yang mengandalkan peranti keras dan lunak komputer.
Stair (dalam Fatta,2007)  menjelaskan bahwa sistem informasi berbasis komputer (CBIS) dalam suatu organisasi terdiri dari komponen-komponen berikut:

a. Perangkat keras, yaitu perangkat keras komponen untuk melengkapi kegiatan memasukkan data, memproses data, dan keluaran data.

b. Perangkat lunak, yaitu program dan instruksi yang diberikan ke komputer.

c. Database yaitu kumpulan data dan informasi yang diorganisasikan sedemikian rupa sehinga mudah diakses pengguna sistem informasi.  

d. Telekomunikasi, yaitu komunikasi yang menghubungkan antara pengguna sistem dengan sistem komputer secara bersama-sama ke dalam suatu jaringan kerja yang efektif.
Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing            
            perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: ANDI OFFSET.
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Salemba

2.   Definisi SIA

Menurut Bastian, 2006 sistem informasi akuntasi adalah sistem yang bertanggung jawab melaporkan hasil-hasil perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Menurut Bastian, 2006 sistem informasi akuntasi adalah sebuah sistem yang memerlukan seperangkat sumber daya yang meliputi prosessor, database, instrument input/output, sumber daya lainnya.

Menurut Umar (2005), SIA adalah aplikasi yang menggunakan komputer hanya bersifat pengolahan data perusahaan secara sederhana, di mana informasi untuk manajemen masih merupakan produk sampingan.
Kemudian menurut Gaol (2008), SIA adalah aplikasi yang terjadi dengan sederhana pada sebuah perusahaan. Saat tindakan berlangsung dan transaksi terjadi, data dimasukkan ke dalam basis data.
Bastian, I. (2006). Akuntasi pendidikan. Yogyakarta: Erlangga
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo.

3.      Definisi SIM

Menurut Umar (2005), SIM adalah konsep yang menghendaki bahwa aplikasi komputer mempunyai tujuan utama untuk menyajikan informasi manajemen. SIM merupakan suatu sumber daya organisasi yang menyediakan informasi pemecahan masalah bagi sekelompok manajer secara umum yang mewakili suatu unit organisasi seperti suatu tingkat manajemen atau suatu area fungsional.
Kemudian menurut Gaol (2008), SIM adalah aplikasi yang bertanggungjawab dalam menyediakan informasi untuk seluruh manajer perusahaan dalam bentuk laporan berkala, laporan khusus, dan keluaran bentuk matematika.

Selain itu, menurut Gaol (2008), SIM adalah sistem yang berbasis komputer dan dapat digunakan sebagai sistem pendukung krputusan, sistem ahli, atau aplikasi otomatisasi perkantoran, dan dapat memberikan dukungan untuk pemisahan keputusan.

Menurut George (dalam Djahir dan Pratita, 2014) sistem informasi manajemen adalah serangkain subsistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang ditetapkan.

Menurut Djahir dan Pratita, 2014 tujuan sistem informasi manajemen adalah menyajikan informasi untuk pengambilan keputusan pada perencanaan, pemrakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi subsistem suatu perusahaan dan menyajikan sinergi organisasi pada proses.

Djahir,Y., Pratita, P. (2014). Bahan ajar sistem informasi manajemen. Yogyakarta: Deepublish
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo.

4.      Definisi SPK

Menurut Fatta (2007) merupakan sistem informasi pada level manajemen dari suatu organisasi yang mengombinasikan data dan model analisi yang canggih atau peralatan data analisis untuk mendukung pengambilan yang semi terstruktur dan tidak terstruktur. SPK dirancang untuk membantu pengambilan keputusan organisasional. SPK biasanya tersusun dari:

a. Database

b. Model grafis atau matematis, yang digunakan untuk proses bisnis.

c. Antarmuka pengguna, yang digunakan oleh pengguna untnuk berkomunikasi dengan SPK.
Menurut Gaol (2008), SPK adalah para manajer dapat membuat keluaran (output) untuk masalah khusus yang berkenaan dengan kualitas.

Menurut Umar (2005), adalah sistem penghasil informasi yang ditujukan untuk suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh seseorang serta pengambilan keputusan
Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing            
            perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: ANDI OFFSET.
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

5.      Definisi OA

Menurut Umar (2005), OA adalah aplikasi yang memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas di antara manajer dan pekerja kantor melalui penggunaan alat-alat elektronik, seperti modem, fax, word processing, e-mail, dan desktop publishing.

Menurut Nagpal (2000) menjelaskan bahwa Otomatisasi Kantor atau Office Automation (OA) adalah komputer berbasis sistem informasi yang mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mengirimkan pesan elektronik, dokumen, dan bentuk lain dari komunikasi antar individu, kelompok kerja, dan organisasi. Sistem tersebut dapat meningkatkan produktivitas pengguna di bidang manajerial, tenaga profesional dan staf lain secara signifikan mengurangi waktu dan upaya yang diperlukan untuk memproduksi, akses dan menerima komunikasi bisnis.

Menurut Gaol, 2008 sistem OA menyediakan kemampuan telekomunikasi untuk orang-orak di dalam perusahaan dan memampukan mereka untuk berkomunikasi diantara mereka sendiri dengan para penyalur, serta para pelanggan di lingkungan perusahaan.
Gaol, J.L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo
Nagpal, D.P. (2000). Textbook on management information systems. New Delhi: S.Chand & Company Ltd.

Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

6.      Definisi SPakar

Menurut Kusrini (2008), SPakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikiran oleh pakar. Pakar yang dimaksud di sini adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang awam.

Kemudian menurut Kusrini (2006), SPakar adalah sistem yang dibuat pada wilayah pengetahuan tertentu untuk suatu kepakaran tertentu yang mendekati kemampuan manusia di suatu bidang. Sistem pakar mencoba mencari solusi yang memuaskan sebagaimana yang dilakukan seorang pakar.

Menurut Umar (2005), sistem pakar adalah sistem yang berfungsi sebagai seorang spesialis dalam satu area fungsional. Contoh, sistem pakar dapat menyediakan sebagian bantuan yang sama seperti yang diberikan oleh seorang konsultan manajemen.
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.



Komponen Elemen Sistem

Contoh sistem yang berhubungan dengan ilmu psikologi adalah tes psikologi yang menggunakan komputer yaitu antara lain, papikostick. Di dalam mengaplikasikan tes psikologi ini, akan melewati beberapa tahap:
Pertama, input. Input dalam tes ini adalah soal soal yang diberikan kepada testee.
Kedua, proses. Proses dalam tes ini adalah ketika testee mengisi seluruh soal yang ada.
Ketiga, output. Output dalam tes ini adalah hasil dari test papikostick tersebut.
Keempat, tujuan. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur aspek-aspek psikologis dan untuk mengevaluasi perilaku dan gaya kerja individu di tempat kerja.


Daftar Pustaka
Bohari, A. M. (2005). Information technology. Jakarta: IBS
Hall, J. A. (2007). Sistem informasi akuntansi. Jakarta: Salemba
Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Salemba
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo.
Sarosa, S. (tidak dilampirkan). Sistem informasi akuntansi. Jakarta: Grasindo.
Kusrini. (2008). Aplikasi sistem pakar. Yogyakarta: Andi Offset.
Kusrini. (2006). Sistem pakar teori dan aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset.
    Definisi CBIS

Menurut Umar (2005), CBIS merupakan evolusi sistem informasi yang berbasiskan komputer yang tahapannya memperlihatkan  perkembangan kemajuan teknologi sistem informasi sekaligus pemanfaatannya oleh orang-orang yang berkepentingan dalam perusahaan.

Sedangkan menurut Laudon dan Laudon (2008), CBIS adalah sistem informasi berbasis komputer untuk pemrosesan dan penyebaran informasi yang mengandalkan peranti keras dan lunak komputer.
Stair (dalam Fatta,2007)  menjelaskan bahwa sistem informasi berbasis komputer (CBIS) dalam suatu organisasi terdiri dari komponen-komponen berikut:

a. Perangkat keras, yaitu perangkat keras komponen untuk melengkapi kegiatan memasukkan data, memproses data, dan keluaran data.

b. Perangkat lunak, yaitu program dan instruksi yang diberikan ke komputer.

c. Database yaitu kumpulan data dan informasi yang diorganisasikan sedemikian rupa sehinga mudah diakses pengguna sistem informasi.  

d. Telekomunikasi, yaitu komunikasi yang menghubungkan antara pengguna sistem dengan sistem komputer secara bersama-sama ke dalam suatu jaringan kerja yang efektif.
Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing            
            perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: ANDI OFFSET.
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Salemba

2.   Definisi SIA

Menurut Bastian, 2006 sistem informasi akuntasi adalah sistem yang bertanggung jawab melaporkan hasil-hasil perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Menurut Bastian, 2006 sistem informasi akuntasi adalah sebuah sistem yang memerlukan seperangkat sumber daya yang meliputi prosessor, database, instrument input/output, sumber daya lainnya.

Menurut Umar (2005), SIA adalah aplikasi yang menggunakan komputer hanya bersifat pengolahan data perusahaan secara sederhana, di mana informasi untuk manajemen masih merupakan produk sampingan.
Kemudian menurut Gaol (2008), SIA adalah aplikasi yang terjadi dengan sederhana pada sebuah perusahaan. Saat tindakan berlangsung dan transaksi terjadi, data dimasukkan ke dalam basis data.
Bastian, I. (2006). Akuntasi pendidikan. Yogyakarta: Erlangga
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo.

3.      Definisi SIM

Menurut Umar (2005), SIM adalah konsep yang menghendaki bahwa aplikasi komputer mempunyai tujuan utama untuk menyajikan informasi manajemen. SIM merupakan suatu sumber daya organisasi yang menyediakan informasi pemecahan masalah bagi sekelompok manajer secara umum yang mewakili suatu unit organisasi seperti suatu tingkat manajemen atau suatu area fungsional.
Kemudian menurut Gaol (2008), SIM adalah aplikasi yang bertanggungjawab dalam menyediakan informasi untuk seluruh manajer perusahaan dalam bentuk laporan berkala, laporan khusus, dan keluaran bentuk matematika.

Selain itu, menurut Gaol (2008), SIM adalah sistem yang berbasis komputer dan dapat digunakan sebagai sistem pendukung krputusan, sistem ahli, atau aplikasi otomatisasi perkantoran, dan dapat memberikan dukungan untuk pemisahan keputusan.

Menurut George (dalam Djahir dan Pratita, 2014) sistem informasi manajemen adalah serangkain subsistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang ditetapkan.

Menurut Djahir dan Pratita, 2014 tujuan sistem informasi manajemen adalah menyajikan informasi untuk pengambilan keputusan pada perencanaan, pemrakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi subsistem suatu perusahaan dan menyajikan sinergi organisasi pada proses.

Djahir,Y., Pratita, P. (2014). Bahan ajar sistem informasi manajemen. Yogyakarta: Deepublish
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo.

4.      Definisi SPK

Menurut Fatta (2007) merupakan sistem informasi pada level manajemen dari suatu organisasi yang mengombinasikan data dan model analisi yang canggih atau peralatan data analisis untuk mendukung pengambilan yang semi terstruktur dan tidak terstruktur. SPK dirancang untuk membantu pengambilan keputusan organisasional. SPK biasanya tersusun dari:

a. Database

b. Model grafis atau matematis, yang digunakan untuk proses bisnis.

c. Antarmuka pengguna, yang digunakan oleh pengguna untnuk berkomunikasi dengan SPK.
Menurut Gaol (2008), SPK adalah para manajer dapat membuat keluaran (output) untuk masalah khusus yang berkenaan dengan kualitas.

Menurut Umar (2005), adalah sistem penghasil informasi yang ditujukan untuk suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh seseorang serta pengambilan keputusan
Fatta, H. A. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan bersaing            
            perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: ANDI OFFSET.
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

5.      Definisi OA

Menurut Umar (2005), OA adalah aplikasi yang memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas di antara manajer dan pekerja kantor melalui penggunaan alat-alat elektronik, seperti modem, fax, word processing, e-mail, dan desktop publishing.

Menurut Nagpal (2000) menjelaskan bahwa Otomatisasi Kantor atau Office Automation (OA) adalah komputer berbasis sistem informasi yang mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mengirimkan pesan elektronik, dokumen, dan bentuk lain dari komunikasi antar individu, kelompok kerja, dan organisasi. Sistem tersebut dapat meningkatkan produktivitas pengguna di bidang manajerial, tenaga profesional dan staf lain secara signifikan mengurangi waktu dan upaya yang diperlukan untuk memproduksi, akses dan menerima komunikasi bisnis.

Menurut Gaol, 2008 sistem OA menyediakan kemampuan telekomunikasi untuk orang-orak di dalam perusahaan dan memampukan mereka untuk berkomunikasi diantara mereka sendiri dengan para penyalur, serta para pelanggan di lingkungan perusahaan.
Gaol, J.L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo
Nagpal, D.P. (2000). Textbook on management information systems. New Delhi: S.Chand & Company Ltd.

Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

6.      Definisi SPakar

Menurut Kusrini (2008), SPakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikiran oleh pakar. Pakar yang dimaksud di sini adalah orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang awam.

Kemudian menurut Kusrini (2006), SPakar adalah sistem yang dibuat pada wilayah pengetahuan tertentu untuk suatu kepakaran tertentu yang mendekati kemampuan manusia di suatu bidang. Sistem pakar mencoba mencari solusi yang memuaskan sebagaimana yang dilakukan seorang pakar.

Menurut Umar (2005), sistem pakar adalah sistem yang berfungsi sebagai seorang spesialis dalam satu area fungsional. Contoh, sistem pakar dapat menyediakan sebagian bantuan yang sama seperti yang diberikan oleh seorang konsultan manajemen.
Umar, H. (2005). Evaluasi kinerja perusahaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.



Komponen Elemen Sistem

Contoh sistem yang berhubungan dengan ilmu psikologi adalah tes psikologi yang menggunakan komputer yaitu antara lain, papikostick. Di dalam mengaplikasikan tes psikologi ini, akan melewati beberapa tahap:
Pertama, input. Input dalam tes ini adalah soal soal yang diberikan kepada testee.
Kedua, proses. Proses dalam tes ini adalah ketika testee mengisi seluruh soal yang ada.
Ketiga, output. Output dalam tes ini adalah hasil dari test papikostick tersebut.
Keempat, tujuan. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur aspek-aspek psikologis dan untuk mengevaluasi perilaku dan gaya kerja individu di tempat kerja.


Daftar Pustaka
Bohari, A. M. (2005). Information technology. Jakarta: IBS
Hall, J. A. (2007). Sistem informasi akuntansi. Jakarta: Salemba
Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Salemba
Gaol, C. J. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta: Grasindo.
Sarosa, S. (tidak dilampirkan). Sistem informasi akuntansi. Jakarta: Grasindo.
Kusrini. (2008). Aplikasi sistem pakar. Yogyakarta: Andi Offset.
Kusrini. (2006). Sistem pakar teori dan aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset.

Kamis, 30 April 2015


Terapi Humanistik Eksistensial (Rollo May)

Salah satu tokoh humanistik eksistensial adalah Rollo May. Selama hampir 50 tahun, pembicara psikologi eksistensial yang terdepan di Amerika Serikat adalah Rollo May. Selama bertahun-tahun menjadi terapis, May telah membangun sudut pandang yang baru mengenai manusia. Pendekatannya tidak didasari oleh penelitian ilmiah yang terkontrol, namun berdasarkan pengalaman klinis. Ia melihat manusia tinggal dalam dunia yang penuh dengan pengalaman masa kini dan akhirnya bertanggung jawab terhadap diri mereka selanjutnya. Pandangan tajam dan analisis mendalam May atas kondisi manusia menjadikannya penulis yang populer di kalangan orang awam dan para psikolog profesional.

May percaya bahwa banyak orang tidak mempunyai cukup keberanian dalam menghadapi takdir mereka dan dalam proses melarikan diri dari hal tersebut, mereka melepaskan kebebasan mereka. Dengan melepaskan kebebasan, mereka juga akan melarikan diri dari tanggung jawab mereka. Dengan tidak mau membuat keputusan dan memilih, mereka kehilangan pandangan tentang siapa diri mereka serta mengembangkan rasa meremehkan sesuatu. Sebaliknya, orang yang sehat akan menghadapi takdirnya, mensyukuri kebebasannya, serta hidup dengan jujur dan wajar bersama orang lain serta dirinya sendiri. Mereka menyadari kematian tidak dapat dihindari dan mempunyai keberanian untuk hidup di masa kini.

Psikologi eksistensial lebih terfokus pada perjuangan individu untuk dapat berfungsi melalui pengalaman hidupnya dan tumbuh menjadi manusia yang seutuhnya.

KONSEP DASAR TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

 Konsep dasar dari eksistensialisme adalah:
1. Being-in-the-world
Banyak orang menderita kecemasan dan kesedihan yang disebabkan oleh alienasi dari diri mereka atau dunia mereka. Selain itu, mereka juga tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai diri mereka atau merasa terisolasi dari dunia yang terasa berjarak dan asing. Mereka tidak ada kesatuan antara diri dan dunia.

Perasaan terisolasi dan alienasi diri dari dunia tidak hanya diderita oleh individu yang terganggu secara patologis, namun juga oleh kebanyakan individu dalam masyarakat modern. Alieanasi adalah penyakit masa kini dan dimanifestasikan dalam tiga area, yaitu (1) keterpisahan dari alam, (2) kurangnya hubungan interpersonal yang berarti, dan (3) keterasingan dari diri yang autentik. Dengan demikian, manusia mengalami tiga bentukbeing-in-the-world yang terjadi bersamaan, yaitu Umwelt (lingkungan disekitar kita),Mitwelt (hubungan kita dengan orang lain), dan Eigenwelt (hubungan kita dengan diri sendiri).

Umwelt adalah dunia objek dan benda dan akan tetap ada walaupun manusia tidak memiliki kesadaran. Umwelt adalah dunia alam dan hukum alam, termasuk dorongan biologis seperti rasa lapar dan dorongan untujk tidur, serta fenomena alami seperti kelahiran dan kematian. Kita tidak dapat lari dari Umwelt. Kita harus belajar untuk hidup dalam dunia yang ada di sekitar kita dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam dunia ini.

Namun, kita tidak hanya hidup di Umwelt. Kita juga hidup di dalam dunia yang penuh dengan manusia, yaitu Mitwelt. Kita harus berhubungan dengan manusia sebagai manusia, bukan sebagai benda. Apabila kita memperlakukan manusia sebagai objek, maka kita sesungguhnya hanya hidup di Umwelt. Perbedaan antara Umwelt dan Mitweltdapat dilihat dengan membedakan antara seks dan cinta. Apabila seseorang menggunakan orang lain sebagai instrumen untuk kepuasan seksual, maka orang tersebut hidup di Umwelt. Akan tetapi, cinta menuntut seseorang untuk berkomitmen dengan orang lain. Mencintai berarti menghormati being-in-the-world pihak satunya, sebuah penerimaan tidak bersyarat untuk orang tersebut. Tetapi, tidak semua hubunganMitwelt mengharuskan adanya cinta.

Eigenwelt merujuk pada hubungan seseorang terhadap dirinya sendiri. Bentuk being-in-the-world ini adalah dunia yang biasanya tidak dijelajahi oleh pakar teori kepribadian. Untuk hidup dalam Eigenwelt, berarti untuk sadar atas dirinya sendiri sebagai manusia dan memahami siapa diri kita saat berhubungan dengan dunia kebendaan dan dunia manusia. 

Orang yang sehat hidup dalam UmweltMitwelt, dan Eigenwelt secara bersamaan. Mereka beradaptasi dengan dunia alam, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan mempunyai kesadaran yang antusias atas apa arti dari semua pengalaman ini untuk mereka.

2. Nonbeing
Being-in-the-world membutuhkan sebuah kesadaran atas diri sebagai makhluk yang hidup dan berkembang. Kesadaran ini kemudian dapat juga berakibat akan ketiadaan, yaitu nonbeing atau kehampaan. 
Saat kita tidak berani menghadapi nonbeing kita dengan mengontemplasikan kematian, kita tetap saja akan menghadapi nonbeing dalam bentuk lain, termasuk kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan lain, aktivitas seksual yang bebas, serta perilaku kompulsif lainnya. Nonbeing juga dapat diekspresikan sebagai konformitas buta terhadap ekspektasi masyarakat atau sikap bermusuhan yang akan merusak hubungan kita dengan orang lain.

May (1991) mengatakan, "kita takut terhadap nonbeing sehingga mengerutkan keberadaan kita". Kita lari dari membuat pilihan yang aktif, yaitu membuat keputusan tapa mempertimbangkan siapa diri kita dan apa yang kita mau. Kita dapat mencoba menghindari ketakutan atas nonbeing dengan meredupkan kesadaran diri dan menyangkal individualitas kita, namun pilihan seperti itu meninggalkan perasaan sedih dan kekosongan. Dengan demikian, kita melarikan diri dari ketakutan kita atas nonbeingdengan resiko suatu eksistensi yang terbatas. Alternatif yang lebih sehat adalah menghadapi kematian sebagai hal yang tidak dapat dihindari dan menyadari bahwanonbeing adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keberadaan.

UNSUR-UNSUR TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

1. Munculnya Gangguan
Dalam buku The Meaning of Anxiety, May menyatakan bahwa banyak perilaku manusia memiliki motivasi dari landasan rasa takut dan kecemasan. Kegagalan untuk menghadapi kematian, bertindak sebagai pelarian sementara dari kecemasan dan ketakutan atas nonbeing, namun pelarian tersebut tidak akan menjadi permanen. Kematian adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan, yang cepat atau lambat harus dihadapi semua orang.

Manusia mengalami kecemasan saat mereka sadar bahwa eksistensinya terancam hancur atau rusak. May mendefinisikan kecemasan sebagai kondisi subjektif ketika seseorang nenyadari bahwa eksistensinya dapat dihancurkan dan ia dapat menjadi 'bukan apa-apa' (nothing). Kecemasan dapat muncul dari kesadaran atas nonbeing seseorang atau dari ancaman atas nilai-nilai yang dianggap penting untuk eksistensi seseorang. 

Kecemasan dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Kecemasan Normal
b. Kecemasan Neurotik

2. Tujuan Terapi
May menyarankan bahwa terapi ini bertujuan untuk membuat manusia menjadi lebih manusiawi, membantu mereka memperluas kesadaran mereka supaya mereka akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk dapat membuat keputusan. Selain itu, May juga yakin bahwa tujuan psikoterapi adalah untuk membebaskan manusia dan harus lebih terfokus pada membantu orang lain mengalami eksistensi mereka.

3. Peran Terapis
Terapis dan klien harus membangun hubungan satu-lawan-satu (Mitwelt) yang membuat klien mampu untuk lebih sadar akan dirinya dan hidup sepenuhnya dalam dunia mereka sendiri (Eigenwelt). Kemudian juga membangun pertemuan 'saya-Anda' (I-thou), yaitu ketika terapis maupun klien dipandang sebagai subjek dan bukan objek. Di dalam hubungan I-thou, terapis memiliki empati atas pengalaman klien dan terbuka atas dunia subjektif dari klien.

TEKNIK-TEKNIK TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

May tidak banyak memiliki arahan-arahan spesifik untuk diikuti. Terapis eksistensial tidak mempunyai satu set teknik atau metode khusus yang dapat diaplikasikan kepada semua klien. Justru, mereka hanya memiliki diri mereka dan kemanusiaan mereka untuk ditawarkan.

Didalam praktiknya, May akan lebih banyak memberikan pertanyaan untuk masuk ke dalam masa kanak-kanak klien dan untuk memberi saran atas kemungkinan-kemungkinan makna dari perilakunya saat ini.




Referensi:
Feist, J. & Feist, G. J.(2013).Teori Kepribadian.Jakarta: Salemba Humanika

SOFTSKILL MINGGU 3


Person-Centered Therapy (Carl Rogers)

Carl Rogers paling dikenal sebagai pencetus terapi yang berpusat pada pribadi (person-centered therapy) Tidak seperti Freud yang pada dasarnya merupakan seorang pakar teori dan menjadikan terapis sebagai kegiatan sekunder, Rogers merupakan terapis yang sempurna, namun tidak terlalu menyukai teori. Rogers lebih tertarik untuk membantu orang lain daripada mencari tahu mengapa mereka melakukan suatu perilaku. Ia akan lebih bertanya mengenai "bagaimana saya dapat membantu orang ini untuk tumbuh dan berekembang?" daripada memikirkan tentang pertanyaan "apa yang menyebabkan orang ini berkembang seperti dengan cara seperti ini?".

Seperti kebanyakan pakar teori kepribadian, Rogers membangun teorinya berdasarkan landasan yang diperolehnya sebagai terapis. Tidak seperti sebagian besar pakar teori lainnya, Rogers secara berkesinambungan melakukan penelitian empiris untuk mendukung teori perkembangannya maupun pendekatan terapinya. Mungkin lebih dari para pakar teori terapis lainnya, Rogers menunjukkan keseimbangan antara pemikiran yang tidak kaku dan studi yang rasional yang dapat memperluas pengetahuan tentang bagaimana manusia merasa dan berpikir.

Selama tahun 1950-an yang merupakan titik tengah karirnya, Rogers diminta untuk menulis tentang apa yang kelak akan disebut dengan teori kepribadian "yang berpusat pada pribadi".

Pada tahun-tahun awal sekitar tahun 1940-an, pendekatan yang dilakukan Rogers dikenal sebagai nondirective, istilah tidak menyenangkan yang diasosiasikan dengan namanya dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, pendekatan tersebut memakai beragam istilah, antara lain pendekatan yang berpusat pada klien (client-centered), yang berpusat pada pribadi (person-centered), yang berpusat pada siswa (student-centered), yang berpusat pada kelompok (group-centered), dan person-to-person. Namun, yang digunakan adalah penamaan yang berpusat pada klien untuk merujuk terapi Rogers dan istilah yang lebih luas, yaitu person-centered untuk merujuk pada teori kepribadian Rogers.

Konsep Dasar Person-Centered Therapy 

 Pendekatan person-centered therapy menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Terapi ini berfokus pada bagaimana membantu dan mengarahkan klien pada pengaktualisasian diri untuk dapat mengatasi permasalahannya dan mencapai kebahagiaan. Konsep dasar dari terapi ini adalah hal-hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self) dan aktualisasi diri.

Menurut Rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai "aku" (I) atau "diriku" (me). Kemudian, bayi secara bertahap menjadi sadar akan identitasnya sendiri saat mereka belajar apa yang terasa baik dan terasa buruk, apa yang terasa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Selanjutnya, mereka mulai untuk mengevaluasi pengalaman mereka sebagai pengalaman positif dan negatif, menggunakan kecenderungan aktualisasi sebagai kriteria.

Saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang. Aktualisasi diri merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Secara singkat, aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk  mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran. Rogers mengajukan dua subsistem, yaitu konsep diri (self-concept) dan diri ideal (ideal-self).

Konsep Diri
Konsep diri meliputi seluruh aspek dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individu tersebut. Konsep diri tidak identik dengan diri organismik. Bagian-bagian diri organismik berada di luar kesadaran seseorang atau tidak dimiliki oleh orang tersebut.

Saat manusia sudah membentuk konsep dirinya, ia akan menemukan kesulitan dalam menerima perubahan dan pembelajaran yang penting. Pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka biasanya disangkal atau hanya diterima dengan bentuk yang telah didistorsi atau diubah.

Diri Ideal
Diri ideal didefinisikan sebagai pandangan seseorang atas diri sebagaimana yang diharapkannya. Diri ideal meliputi semua atribut, biasanya yang positif, yang ingin dimiliki oleh seseorang. Perbedaan yang besar antara diri ideal dengan konsep diri mengindikasikan inkongruensi dan merupakan kepribadian yang tidak sehat. Individu yang sehat secara psikologis akan mellihat sedikit perbedaan antara konsep dirinya dengan apa yang mereka inginkan secara ideal.

Unsur-Unsur Person-Centered Therapy

1. Munculnya Gangguan 
Hambatan atas pertumbuhan psikologis terjadi saat seseorang mengalami penghargaan bersyarat,  inkongruensi, sikap defensif, dan disorganisasi.

Penghargaan bersyarat dapat berakibat pada kerentanan, kecemasan, dan ancaman serta menghambat manusia dari merasakan penerimaan positif yang tidak bersyarat. Inkongruensi berkembang saat diri orgasmik dan diri yang dirasakan tidak selaras. Saat diri organismik dan diri yang dirasakan tidak kongruen, manusia cenedrung menjadi defensif serta menggunakan distorsi dan penyangkalan sebagai usaha untuk mengurangi inkongruensi. Manusia yang mengalami disorganisasi saat distorsi dan penyangkalan tidak cukup untuk menahan inkongruensi. Orang-orang yang cenderung tidak menyadari inkongruensi mereka, memungkinkan untuk merasa lebih cemas, terancam, dan defensif.

2. Tujuan Terapi
 Rogers (1980) memberikan penjelasan sesuai dengan logika bahwa ketika seseorang merasakan sendiri bahwa mereka dihargai dan diterima tanpa syarat, mereka menyadari bahwa mungkin untuk pertama kalinya mereka dapat dicintai. Sehingga, tujuan dari person-centered therapy adalah untuk membuat klien/pribadi seseorang dapat menghargai dan menerima diri mereka sendiri dan untuk mempunyai penerimaan positif yang tidak bersyarat terhadap diri mereka. 

3. Peran Terapis
Dalam pandangan Rogers, konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.

Agar peran ini dapat dipertahankan dan tujuan dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling.

Selain peranan diatas, peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan kemampuan yang pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang secara optimal, dengan cara menciptakan hubungan konseling yang hangat. Dalam suasana yang demikian, konselor merupakan agen pembangunan yang mendorong terjadinya perubahan pada diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat langsung dalam proses perubahan tersebut.

TEKNIK-TEKNIK PERSON-CENTERED THERAPY

Secara garis besar, teknik-teknik dalam person-centered therapy adalah:
1. Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang merealisasikan segala kondisi
2. Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka serta dapat meyakinkan klien bahwa dia diterima dan dipahami
3. Konselor memungkinkan klien untuk mengungkapkan seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri, dan mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan perilakunya.


Referensi:
Feist, J & Feist, G. J.(2013).Teori Kepribadian.Jakarta: Salemba Humanika
Latipun.(2008).Psikologi Konseling.Malang: UMM Press