Nama : Aditya Nugroho
NPM : 10512243
Kelas : 3PA06
NPM : 10512243
Kelas : 3PA06
Demo Ahok, FPI Kehilangan Akal Sehat
Menilai Pejabat Publik
Selain Rancangan Undang-Undang
Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada), fenomena politik yang menohok di Ibukota
tidak lain dan tidak bukan adalah demonstrasi Front Pembela Islam (FPI) pada
Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama Selasa (23/9).
Kelompok Islam radikal ini dalam
aksinya menolak DKI Jakarta berada di bawah nahkoda Basuki. Ada beberapa alasan
yang FPI utarakan dalam menolak Basuki. Salah satu alasan paling kuat penolakan
ormas yang dipimpin Rizieq Syihab terhadap kepemimpinan Ahok adalah karena
persoalan identitas primordial Basuki.
Ahok Panggilan Basuki sebagaimana
diketahui bersama merupakan seorang Katolik dan Tionghoa. Dual Minority melekat
di diri Ahok. Sehingga kerap kali, Bupati Belitung Timur itu menjadi sasaran
kelompok radikal seperti FPI dalam menjalankan roda pemerintahan.
Redaksi ICRP-Online.org mewawancarai
Direktur Pelaksana Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
Mohammad Monib perihal demo berbau Suku Ras dan Agama (SARA) itu.
Tanggapan
Pertama-tama saya ingin berikan
pandangan saya mengenai ormas radikal seperti FPI. Bagi saya aksi FPI
merupakan:
1.sikap beragama dan berislam yang buruk, tidak sehat, merusak nama
islam. FPI lah selama penoda wajah islam yg seharusnya di ruang publik indah,
sejuk dan damai.
2. Dakwah islam yang toleran di dunia internasional dirusak
oleh geromban ini.
Dengan demikian saya melihat
ormas berjubah ini tak lebih dari para preman.
Saya setuju bahwa FPI merupakan
ancaman bagi Indonesia. Karena ormas ini merusak toleransi dan pluralisme.
FPI telah menunjukkan absentnya akal sehat dalam menilai pejabat publik.
Selain Ahok harus senantiasa
menegakan konstitusi, ada baiknya Ahok untuk mengintensifkan dialog dengan
kelompok-kelompok muslim moderat. Dalam makna agar Ia lebih leluasa
mmberikan ruang bagi moderasi dan edukasi untuk publik.
Saya ingin garis bawahi satu hal.
Menurut saya ada tendensi bahwa FPI bagian dari perselingkuhan politik fasis
dengan ormas fasis yg kita analisa jelang pilpres.
Saya tidak memungkiri bahwa
radikalisme memang menguat di ruang publik. Hanya saja, dalam pengamatan saya,
jumlahnya kecil dibanding yang sehat dan moderat.
Sayangnya, hal ini mendapat cakupan
yang besar di media. Kita paham tentu di dunia warta adalah istilah Bad News is Good News.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar