Senin, 13 Oktober 2014

TULISAN PERTEMUAN 1



Nama : Aditya Nugroho
NPM  : 10512243
Kelas : 3PA06



Demo Ahok, FPI Kehilangan Akal Sehat Menilai Pejabat Publik


Selain Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada), fenomena politik yang menohok di Ibukota tidak lain dan tidak bukan adalah demonstrasi Front Pembela Islam (FPI) pada Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama Selasa (23/9).
Kelompok Islam radikal ini dalam aksinya menolak DKI Jakarta berada di bawah nahkoda Basuki. Ada beberapa alasan yang FPI utarakan dalam menolak Basuki. Salah satu alasan paling kuat penolakan ormas yang dipimpin Rizieq Syihab terhadap kepemimpinan Ahok adalah karena persoalan identitas primordial Basuki.
Ahok Panggilan Basuki sebagaimana diketahui bersama merupakan seorang Katolik dan Tionghoa. Dual Minority melekat di diri Ahok. Sehingga kerap kali, Bupati Belitung Timur itu menjadi sasaran kelompok radikal seperti FPI dalam menjalankan roda pemerintahan.
Redaksi ICRP-Online.org mewawancarai Direktur Pelaksana Indonesian Conference on Religion and Peace  (ICRP) Mohammad Monib perihal demo berbau Suku Ras dan Agama (SARA) itu.


Tanggapan

Pertama-tama saya ingin berikan pandangan saya mengenai ormas radikal seperti FPI. Bagi saya aksi FPI merupakan: 
1.sikap beragama dan berislam yang buruk, tidak sehat, merusak nama islam. FPI lah selama penoda wajah islam yg seharusnya di ruang publik indah, sejuk dan damai. 
2. Dakwah islam yang toleran di dunia internasional dirusak oleh geromban ini.

Dengan demikian  saya melihat ormas berjubah ini tak lebih dari para preman.
Saya setuju bahwa FPI merupakan ancaman bagi Indonesia. Karena ormas ini merusak toleransi dan pluralisme. FPI telah menunjukkan absentnya akal sehat dalam menilai pejabat publik.
Selain Ahok harus senantiasa menegakan konstitusi, ada baiknya Ahok untuk mengintensifkan dialog dengan kelompok-kelompok muslim moderat. Dalam makna agar Ia lebih leluasa mmberikan ruang bagi moderasi dan edukasi untuk publik.
Saya ingin garis bawahi satu hal. Menurut saya ada tendensi bahwa FPI bagian dari perselingkuhan politik fasis dengan ormas fasis yg kita analisa jelang pilpres.
Saya tidak memungkiri bahwa radikalisme memang menguat di ruang publik. Hanya saja, dalam pengamatan saya,  jumlahnya kecil dibanding yang sehat dan moderat.
Sayangnya, hal ini mendapat cakupan yang besar di media. Kita paham tentu di dunia warta adalah istilah  Bad News is Good News.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar