Nama : Aditya Nugroho
Kelas : 3PA06
NPM: 10512243
Komunikasi dan menejemen
a. Definisi komunikasi
Menurut
Alo Liliweri (2007) Komunikasi
adalah proses yang melibatkan seseorang untuk menggunakan tanda–tanda (alamiah
atau universal) berupa simbol–simbol (berdasarkan perjanjian manusia) verbal
atau non-verbal yang disadari atau tidak disadari yang bertujuan untuk
mempengaruhi sikap orang lain.
Selain itu Menurut Karlfried (2003) Knapp Komunikasi
merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik,
seperti sistem simbol verbal (kata–kata), verbal dan non-verbal. Sistem ini
dapat disosialisasikan secara langsung
dengan bertatap muka atau melalui media lain yaitu tulisan, oral, dan
visual.
Sedangkan menurut menurut kamus
psikologi komunikasi adalah suatu bentuk interaksi, dimana tingkah laku suatu
organisme berperan sebagai suatu sttimulus terhadap perilakunya organisme yang
lain. juga sebagai informasi yang dikirimkan dari seseorang kepada orang lain.
Dari beberapa definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu bentuk interaksi antarpribadi yang
melibatkan seseorang dan bertujuan untuk mempengaruhi sikap orang lain baik
secara verbal maupun nonverbal.
b. Proses komunikasi
Seperti
yang telah dijelaskan diatas, komunikasi merupakan proses penyampaian pesan
yang dilakukan oleh komunikator kepada komunikannya, dengan adanya pengaruh
yang diberikan oleh komunikator kepada komunikan agar terjadi feedback yang diharapkan guna mencapai suatu
kesamaan makna antara komunikator dan komunikannya. Menurut Effendy ( 2003 )
proses komunikasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Proses
Komunikasi dalam Perspektif Psikologis
Proses
komunikasi perspektif ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika
seorang komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada komunikan,
maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Pesan komunikasi terdiri dari dua
aspek, yakni isi pesan dan lambang. Isi pesan umumnya adalah pikiran sedangkan
isi lambang umumnya adalah bahasa.
2. Proses Komunikasi dalam Perspektif
Mekanistis
Proses
komunikasi dalam perspektif mekanistis diklasifikasikan menjadi proses
komunikasi secara primer dan secara sekunder, yaitu sebagai berikut :
a. Proses
komunikasi secara primer
Proses
komunikasi secara primer (primary process)
adalah proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan
menggunakan suatu lambang (symbol) sebagai
media atau saluran. Lambang ini umumnya bahasa, tetapi dalam situasi–situasi
komunikasi tertentu lambang–lambang yang dipergunakan dapat berupa kial (gesture), yaitu gerak anggota tubuh, gambar, warna dan
lain sebagainya.
b. Proses
komunikasi secara sekunder
Proses komunikasi
secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat
atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Media kedua yang digunakan dalam proses komunikasi sekunder ini adalah media
massa, baik media elektronik maupun media cetak. Penggunaan media massa ini
untuk mencapai khalayak yang lebih banyak dan luas. Namun kekurangan dari
proses komunikasi sekunder ini adalah umpan balik yang tidak langsung karena
bersifat satu arah (one way communication).
c. Hambatan komunikasi
Menurut Leonard R.S. dan George Strauss dalam Stoner james,
A.F dan Charles Wankel sebagaimana yang dikutip oleh Herujito (2001), ada
beberapa hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu :
1.
Mendengar.
Biasanya kita mendengar apa yang
ingin kita dengar. Banyak hal atau informasi yang ada di sekeliling kita, namun
tidak semua yang kita dengar dan tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita,
itulah yang ingin kita dengar.
2.
Mengabaikan informasi yang
bertentangan dengan apa yang kita ketahui.
3.
Menilai sumber.
Kita
cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika ada anak kecil yang
memberikan informasi tentang suatu hal, kita cenderung mengabaikannya.
4.
Persepsi yang berbeda.
Komunikasi
tidak akan berjalan efektif, jika persepsi si pengirim pesan tidak sama dengan
si penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan pertengkaran, diantara
pengirim dan penerima pesan.
5.
Kata yang berarti lain bagi
orang yang berbeda.
Kita
sering mendengar kata yang artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita.
Seseorang menyebut akan datang sebentar lagi, mempunyai arti yang berbeda bagi
orang yang menanggapinya. Sebentar lagi bisa berarti satu menit, lima menit,
setengah jam atau satu jam kemudian.
6.
Sinyal nonverbal yang tidak
konsisten.
Gerak-gerik kita ketika berkomunikasi – tidak melihat
kepada lawan bicara, tetap dengan aktivitas kita pada saat ada yang
berkomunikasi dengan kita-, mampengaruhi porses komunikasi yang berlangsung.
7.
Pengaruh emosi.
Pada
keadaan marah, seseorang akan kesulitan untuk menerima informasi. apapun berita
atau informasi yang diberikan, tidak akan diterima dan ditanggapinya.
8.
Gangguan.
Gangguan ini bisa berupa suara
yang bising pada saat kita berkomunikasi, jarak yang jauh, dan lain sebagainya.
d. Definisi komunikasi Interpersonal
Menurut Effendy ( 2003
)Komunikasi interpersonal adalah Proses pengiriman pesan-pesan antara dua orang
atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa
umpan balik seketika
Adapun Menurut Devito (1991 ) Komunikasi
interpersonal didefinisikan sebagai pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan
diterima oleh orang lain atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik
secara langsung.
Sedangkan menuerut Burgon dan Huffner (
2002 ) Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang
dilakukan kepada pihak lain untukmendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face)
maupun dengan media.Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok maya atau
factual.
Dari beberapa definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses pengiriman pesan-pesan
antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa
efek dan beberapa umpan balik seketika pengiriman pesan-pesan antara dua
orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, untuk mendapatkan umpan balik, baik secara
langsung (face to face) maupun dengan media
B. Pelatihan dan
pengembangan
a. Definisi pelatihan
Menurut Sikula (1976 dalam
Munandar, 2008)
(1976) pelatihan adalah: proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan
prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga kerja nonmanajerial
mempelajari pengetahuan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu.
Selain itu Menurut Nitisemito (1996), pelatihan sebagai suatu kegiatan yang
bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku keterampilan, dan pengetahuan dari karyawannya sesuai dengan keinginan
perusahaan.
Menurut Drummond
(1990), "pelatihan adalah menuntun dan
mengarahkan perkembangan dari peserta pelatihan melalui pengetahuan, keahlian
dan sikap yang diperoleh untuk memenuhi standar tertentu.
Dari
beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah proses
pendidikan, kegiatan yang menuntun dan mengarahkan sikap dan tingkah laku. .
a) Tujuan pelatihan dan pengembangan
Menurut sikula ( 1976) Tujuan dari pelatihan secara umum
dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Meningkatkan
Produktivitas
Pelatihan selain diberikan kepada
tenaga kerja baru, diberikan juga kepada tenaga kerja yang sudah lama bekerja
di perusahaan. pelatihan dapat mennigkatkan taraf prestasi tenaga kerja pada
jabatannya sekarang. prestasi kerja yang
meningkat mengakibatkan peningkatan dari produktivitas. Jadi prestasi kerja meningkat,
keluaran meningkat, produktivita meningkat.
2.Meningkatkan Mutu
Pelatihan yang tepat tidak saja meningkatkan kuantitas
dari keluaran tetapi juga meningkatkan kualitas dari keluaran. tenaga kerja
yang berpengetahuan dan berketerampilan baik
hanya akan berbuat sedikit kesalahan, dan cermat dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Meningkatkan Ketepatan dalam Perencanaan SDM
Pelatihan
yang tepat dapat membantu perusahaan untuk memenuhi keperluannya akan tenaga
kerja dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu di masa yang akan datang.
Jika suatu saat diperlukan, maka lowongan yang ada dapat secara mudah diisi
oleh tenaga dari dalam perusahaan sendiri
4. Meningkatkan Semangat kerja
iklim
dan suasana organisasi pada umumnya menjadi lebih baik jika perusahaan
mempunyai program pelatihan yang tepat. Suatu rangkaian reaksi positif dapat
dihasilkan dari program pelatihan perusahaan yang direncanakan dengan baik.
5. Menarik dan Menahan Tenaga Kerja yang Baik
Para tenaga kerja, terutama para manajernya memandang
kemungkinan untuk mengikuti pelatihan sebagai bagian dari imbalan jasa dari
perusahaan terhadap mereka. mereka berharap perusahaan membayar program
pelatihan yang mengakibatkan mereka bertambah pengetahuan dan keterampilan
dalam keahlian mereka masing-masing. karena itu banyak perusahaan yang menawarkan
program pelatihan yang khusus untuk menarik tenaga kerja yang berpotensi baik.
6. Menjaga Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Pelatihan yang tepat dapat membantu menghindari timbulnya
kecelakaan di perusahaan dan dapat menimbulkan lingkungan kerja yang lebih aman
dan sikap netral yang lebih stabil.
7. Menghindari Keusangan ( Obsolescence)
Usaha pelatihan dan pengembangan
dilakukan secara terus menerus supaya para tenaga kerja dapat mengikuti
perkembangan terakhir dalam bidang kerja merek masing-masing. Ini berlaku baik
untuk tenaga kerja (nonmanajerial) maupun untuk tenaga kerja manajerial.
8. menunjang
pertumbuhan peribadi ( personal growth)
Pelatihan dan pengembangan tidak hanya
menguntungkan perusahaan, tapi juga menguntungkan tenaga kerja sendiri.
b) Sasaran pelatihan dan pengembangan
Sasaran
pelatihan dapat dibedakan dalam dua bagian yaitu:
1. Sasaran umum/ tujuan
Sasaran umum
dirinci kedalam suatu uraian yang mempergunakan istilah-istilah perilaku dan tujuan yang umum dan tidak
mencangkup keseluruhan pelatihan yang lebih konkret.
2. Sasaran khusus
Sasaran khusus dirinci kedalam suatu
uraian yang mempergunakan istilah-istilah “perilaku yang dapat diamati
dan diukur”. Sasaran khusus untuk keseluruhan pelatihan lebih konkret
dibandingkan dengan tujuan umum, namun masih lebih abstrak.
c. Perbedaan pelatihan dan pengembangan
Menurut Sikula (1976 dalam
Munandar, 2008) pelatihan adalah proses pendidikan jangka
pendek yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga
kerja nonmanajerial mempelajari pengetahuan keterampilan teknis untuk tujuan
tertentu. Sedangkan pengembangan adalah proses pendidikan jangka
panjang yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir sehingga tenaga
kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan
umum
Jadi perbedaan
antar pelatihan dan pengembangan adalah
1.
Pelatihan memerlukan proses pendidikan jangka pendek sedangkan pengembangan
memerlukan proses jangka panjang.
2.
Pelatihan menggunakan tenaga kerja nonmanajerial sedangkan pengembangan
menggunakan tenaga kerja manajerial.
3.
Pelatihan mempelajari
pengetahuan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu sedangkan
pengembangan mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum.
d. Faktor psikologi dalam pelatihan dan
pengembangan
Pelatihan dan
pengembangan sebagai fungsi sebagai sarana untuk melatih atau mengembangkan
perilaku ( memberikan dan meningkatkan prestasi ) tenaga kerja sesuai dengan
yang ditetapkan atau dituntut oleh perusahaan.
e. Teknik dan metode pelatihan
a) Teknik pelatihan
teknik teknik dalam pelatihan antaranya:
1. Brainstorming, metode ini lebih bertumpu pada
pengalaman dan imajinasi.
2.
tanya jawab dengan umpan balik,
sering digunakan untuk mereview, overview materi.
3.
Role playing, untuk mebangun suasana
kebersamaan dalam pelatihan, dan kerja tim.
b) Metode pelatihan
Menurut Cherrington
(1995), metode dalam pelatihan dibagi menjadi dua yaitu on the job training dan off the job training. On the job training
lebih banyak digunakan dibandingkan dengan off the job training. Hal ini
disebabkan karena metode on the job
training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat.
Sedangkan metode off the job training
lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
Daftar pustaka
Charoline. S,2014. Komunikasi Interpersonal antara Terapis. Jurnal
E-Komunikasi. 2. 1-13
Gulo Dali & Kartono Kartini. 2003. Kamus Psikologi. Pionir Jaya. Bandung
Gulo Dali & Kartono Kartini. 2003. Kamus Psikologi. Pionir Jaya. Bandung
Munandar,
A.S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. UI-Press.
Jakarta
Referensi:
http://rinintaanggita.blogspot.com/2013/10/pelatihan-dan-pengembangan-tugas-sdm.html
http://www.scribd.com/doc/76408677/Metode-dan-Teknik-Pelatihan#scribd
http://wahabxxxxx.files.wordpress.com/2012/05/psikologi-industri.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar